Listeners:
Top listeners:
play_arrow
KLCBS 100.4 FM 100.4 FM KLCBS Bandung
play_arrow
KLCBS Tropical
play_arrow
KLCBS Standard
play_arrow
KLCBS Jazzical
play_arrow
KLCBS Fusion
play_arrow
KLCBS Fresh
play_arrow
KLCBS World Music
play_arrow
KLCBS Beyond
play_arrow
KLCBS New Age
Awal Desember 2025 turun sebagai hari yang basah. Sejak siang Jakarta dirundung hujan yang jatuh tenang, lalu surut menjadi gerimis yang menggantung seperti kabut tipis di udara. Petang datang tanpa menjanjikan langit cerah, tetapi langkah para tamu tetap mengalir ke Griya Arifin Panigoro di kawasan Jakarta Selatan. Payung-payung terlipat di dekat pintu masih meneteskan sisa hujan, sementara aroma parfum tamu yang bercampur lembut di ruangan dan hidangan ringan menyambut para penikmat musik klasik dan jazz. Para tamu hadir dalam gelaran yang digagas Medco Energy dan KLCBS ini, membawa satu harapan sederhana: dua dunia musikal yang sering dianggap berjauhan bisa bertemu tanpa dipaksa menyatu.

Ruang tengah Griya malam itu tidak menyerupai panggung konser, melainkan ruang tamu besar yang diperluas oleh kehadiran musik. Karpet bermotif, lukisan-lukisan tua, dan pencahayaan hijau kebiruan membentuk suasana intim. Di salah satu sudut strategis, sebuah piano Steinway & Sons ditempatkan pada titik yang terasa seperti pusat gravitasi ruangan; bukan persis di tengah, tetapi cukup menonjol sehingga mata siapa pun seperti otomatis tertarik ke arahnya. Tidak ada panggung yang memisahkan performer dan penonton. Para musisi berdiri dan duduk sejajar dengan tamu, membuat jarak musnah dan musik terasa mengalir dalam lingkar percakapan.
Sesi klasik dibuka oleh Sastrani, soprano bergaun hitam yang berdiri mantap seperti garis nada yang menemukan wujudnya. Dalam “Somewhere” dan “I Feel Pretty” dari Westside Story, ia memadukan teknik opera seriosa dengan keluwesan Broadway. Suaranya melayang jernih, kokoh, tetapi tetap intim, seolah berpindah langsung dari bibir nada ke telinga penonton. Randy Ryan sang pianis mengiringinya dengan kepekaan yang terukur, menjaga ruang agar vokal Sastrani tetap bernafas bebas.
Dalam percakapan sebelumnya, Sastrani menyebut musik klasik sebagai tradisi panjang yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan. “This is the proper way of singing, the ancient time of singing,” ujarnya. Teknik dasar baginya bukan sekadar teknik, tetapi fondasi yang bahkan penyanyi pop atau jazz tetap perlukan. “Kami menjaga fondasinya,” katanya, “supaya sebelum orang masuk genre lain, mereka punya teknik yang tidak asal.” Malam itu kepercayaannya terlihat nyata, berdiri di hadapan penonton dalam bentuk suara yang terjaga.
Lalu suara tenor Oswin Wilke mengambil tempatnya dalam malam itu. Tenor ini membawa kehangatan Italia melalui “Parla Piu Piano” dan “O Sole Mio,” dua karya yang seketika menghadirkan sensasi seperti berada dalam resital keluarga Eropa yang elegan. Vibratonya memenuhi ruangan tanpa menguasai, melainkan membelai; dan Randy kembali mengikat ritme agar setiap frasa tiba di tempat yang semestinya.

Usai jeda singkat, suasana bergeser. Lampu meredup, energi mengendur, dan Yongky and Friends memasuki sesi jazz. Tanpa panggung, mereka berdiri di tengah lingkar tamu, menciptakan atmosfer seperti jam session privat. Jazz malam itu tidak datang untuk menantang klasik, tetapi membuka pintu baru. Piano, contrabass, gitar, dan perkusi menghadirkan lanskap yang lebih longgar. Yongky memulainya dengan mengolah karya-karya klasik dalam nuansa jazz; harmoni diperluas, ritme diberi napas, improvisasi dibukakan ruang. Pertemuan dua genre ini seolah meruntuhkan batasan-batasan musik, bukan karena dipaksa melebur, tetapi karena keduanya diberi cukup ruang untuk saling merespons.
Dalam perbincangan, Yongky menyebut bahwa jazz dan klasik sebenarnya jauh lebih dekat dari yang dibayangkan orang. “Harmoni jazz belajar dari klasik,” katanya, “dan klasik pun belajar dari tradisi sebelumnya. Yang satu memberi struktur, yang satu memberi napas. Keduanya saling membaca.” Baginya, tugas musisi bukan memilih sisi, melainkan menemukan bahasa bersama.
Momen paling mencuri perhatian datang ketika soprano kembali ikut serta dalam sesi jazz. Ia berdiri lebih dekat ke piano, lebih cair, lebih longgar dari pakem seriosa. Kontrabas memberi groove lembut, gitar menaburkan petikan pendek, dan perkusi menambahkan aksen yang memperhalus perubahan suasana. Vokal klasiknya mengalir dalam harmoni jazz yang lentur, menciptakan sensasi seolah musik sedang bereksperimen dengan dirinya sendiri. Titik itu menjadi bukti kecil bahwa genre sejatinya hanya nama; pertemuanlah yang membentuk makna.
Sesi jazz penuh kemudian mengalir. “All the Things You Are,” populer lewat interpretasi Charlie Parker dan kemudian menjadi standar jazz, menambah kehangatan ruang. “It Might Be You,” lagu yang dipopulerkan Stephen Bishop, menghadirkan jeda lembut yang intim. “The Lady Wants to Know,” yang dipopulerkan Michael Franks, menutup bagian itu dengan aroma smooth jazz yang santai. Tidak semuanya menjadi sorotan penuh, tetapi seluruhnya membangun lanskap yang pas untuk mengakhiri malam.
Ketika gerimis akhirnya berhenti di luar rumah itu, musik masih tinggal seperti gema yang enggan pergi. Malam itu menegaskan bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan jembatan. Dan dalam satu malam awal Desember itu, klasik dan jazz benar-benar saling mendengar.
today3 April 2026 117 28
Mon-Fri at 7AM
7:00 am - 9:00 am
Host by Yanti Rangkuti
9:00 am - 11:00 am
Tuesday and Friday at 20:00
8:00 pm - 9:00 pm
Presented by Satrio Wibowo
10:00 pm - 11:00 pm
Mon-Fri at 7AM
7:00 am - 9:00 am
© 2026 KLCBS OFFICIAL | ALL RIGHTS RESERVED
Post comments (0)