Events

Menjemput Harmoni di Timur Bandung: Ketika Gedebage Menjelma Panggung Jazz Dunia

today29 Juni 2026 1

Background
share close

Bagi seorang perindu jazz, musik bukan sekadar rentetan nada yang patuh pada partitur. Jazz adalah obrolan larut malam yang intim, ketukan improvisasi yang membebaskan, dan ruang kultural tempat perbedaan melebur menjadi sebuah harmoni universal. Di sudut Bandung Timur, atmosfer magis itu kembali menemukan rumahnya. Selama empat hari penuh, dari tanggal 25 hingga 28 Juni 2026, Summarecon Mall Bandung (SUMMABA) menyulap dirinya menjadi episentrum sinkopasi global lewat perhelatan akbar bertajuk Gedebage Jazz Festival (GJF) International 2026.

Mengusung benang merah tematik “Jazz, People and Harmony”, festival yang telah tumbuh secara organik sejak tahun 2024 ini kini resmi menanggalkan baju lokalnya untuk bersalin rupa menjadi perayaan berskala internasional. Di bawah langit Bandung Timur, helatan ini melampaui batas fisik sebuah pusat perbelanjaan. Tiga titik strategis—Sawarga Courtyard yang megah, Atrium Ciunik yang hangat, dan koridor Downtown Walk yang riuh—disulap menjadi labirin estetik tempat takdir para musisi lintas benua dan pencinta musik saling bertautan.

Sinergi Ruang, Komunitas, dan Jiwa Kota

Esensi dari menikmati jazz adalah keintiman. Hal inilah yang dengan cermat ditangkap oleh manajemen SUMMABA. Festival ini dirancang bukan sekadar panggung tontonan berjarak, melainkan sebuah ruang komunal yang hidup.

Juni Hadi Hasan, Center Director Summarecon Mall Bandung, menegaskan bahwa GJF International 2026 merupakan manifestasi nyata dari komitmen mereka untuk menghadirkan experience concept yang melampaui fungsi tradisional pusat perbelanjaan.

“Kami ingin menjadikan Summarecon Mall Bandung sebagai lifestyle destination yang menjadi ruang bertemunya komunitas, kreativitas, hiburan, dan budaya bagi masyarakat dan pengunjung. Gedebage Jazz Festival menjadi salah satu signature event yang tumbuh seiring dengan perkembangan Bandung Timur sekaligus memperkuat posisi Gedebage sebagai pusat aktivitas kreatif baru di Kota Bandung,” ungkap Juni hangat.

Keputusan menempatkan Sawarga Courtyard sebagai panggung utama (main stage) terbukti menjadi sebuah torehan genius. Area ruang terbuka hijau yang luas namun tetap terasa hangat ini memungkinkan hembusan angin malam Bandung yang sejuk berpadu dengan petikan bas, ketukan drum, dan tiupan saksofon. Konsep ini meruntuhkan sekat antara penonton dan musisi, menciptakan sebuah pengalaman menonton yang intim sembari dikelilingi oleh opsi retail kuliner yang mengalir di sekelilingnya.

Melintasi Batas Geografis: Narasi Kolaborasi Lintas Negara

Kekuatan utama GJF International 2026 terletak pada keberaniannya merajut dialog kebudayaan. Di panggung Sawarga Courtyard, batas-batas negara melebur lewat proyek kolaborasi eksklusif. Salah satu eksentrisitas yang paling dinantikan adalah aksi kolektif Takahiro Miyazaki x TRIO B.A.E, sebuah jembatan estetika yang mempertemukan ketajaman karakter jazz modern Jepang dengan kedalaman rasa para maestro Indonesia.

Tak ketinggalan, ada anyaman vokal memikat dari Andrea Cui (Singapura) dan tiupan saksofon lirih Julian Chan (Malaysia) yang bersinergi mesra dalam proyek khusus bersama KLCBS Project—sebuah kebanggaan tersendiri bagi ekosistem musik kami. Panggung tahun ini juga mencatat sejarah dengan hadirnya Jazzbois. Trio jazz-hop bereputasi internasional asal Hungaria ini sengaja memilih GJF 2026 sebagai panggung debut perdana mereka di Indonesia, membawa ketukan beralur psikedelik-urban yang segar bagi publik jazz tanah air.

Namun, puncak emosional dari festival ini boleh jadi runtuh pada sesi rekam jejak historis: debut penampilan Sydney Reunion & Indra Lesmana di tanah air. Setelah puluhan tahun terpisah jarak, sang maestro jazz Indonesia akhirnya kembali bersatu di atas panggung dengan para sahabat musikalnya dari Australia. Sebuah reuni yang tidak hanya merayakan nostalgia, tetapi juga membuktikan bahwa chemistry musikal tidak akan pernah luntur oleh waktu.

“Saya senang sekali bisa kembali hadir di Gedebage Jazz Festival. Menurut saya, luar biasa karena dalam usia yang baru tiga tahun festival ini sudah berkembang menjadi sebuah international jazz festival,” ujar Indra Lesmana dengan binar kekaguman. “Saya melihat itu terjadi karena semangat yang luar biasa dari Summarecon yang tidak hanya ingin membangun kawasan, tetapi juga menjadikannya sebagai ruang untuk perkembangan seni, budaya, dan komunitas. Saya yakin festival ini akan terus berkembang karena fondasi dan infrastrukturnya sudah sangat mendukung.”

Pertemuan Tradisi Sunda dan Estafet Generasi Muda

Jazz selalu merayakan masa lalu sembari menatap masa depan. Sentuhan lokalitas yang magis meletup ketika warisan budaya Jawa Barat, Saung Angklung Udjo, berkolaborasi dengan Barry Likumahuwa and The Rhythm Service. Getaran bambu tradisional Sunda yang organik berinteraksi dinamis dengan ketukan funk-jazz modern yang menghentak, melahirkan sebentuk inovasi kultural yang memukau, eksotis, sekaligus relevan di kuping global.

Di sisi lain panggung, diva jazz kebanggaan Indonesia, Syaharani, memilih jalan regenerasi. Tampil untuk pertama kalinya di GJF, ia sengaja menggandeng Bandung Jazz Orchestra untuk mewakili suara dan energi generasi muda Kota Kembang.

“Sebagian besar dari mereka masih kuliah, bahkan ada juga yang masih SMA. Itu membuat saya semakin yakin bahwa lagu-lagu standar jazz bukanlah sesuatu yang kuno atau ditinggalkan, justru bisa terus dipelajari dan digali oleh generasi muda. Saya sangat senang ada Gedebage Jazz Festival yang memberikan kesempatan bagi mereka untuk terus berkembang. Harapan saya, festival ini bisa semakin besar hingga menjadi kebanggaan Kota Bandung,” ungkap Syaharani penuh optimisme.

Spektrum musik selama empat hari ini pun kian kaya dengan penampilan nama-nama besar lintas generasi seperti Krakatau Reunion, Maliq & D’Essentials, komparasi simfonik Tribute to January Christy by Erwin Gutawa, hingga megahnya aransemen rock-jazz dari Dewa 19 ft. Virzha.

Lebih dari Sekadar Konser: Ekosistem Jazz yang Utuh

GJF International 2026 memahami bahwa jazz adalah sebuah gaya hidup, apresiasi, dan transfer pengetahuan. Oleh karena itu, festival ini dilengkapi dengan program edukasi berbobot lewat sesi Masterclass eksklusif bersama Indra Lesmana & Sydney Reunion di Exhibition Hall pada 26 Juni 2026. Ini adalah ruang langka bagi musisi muda, akademisi musik, dan penikmat jazz untuk membedah proses kreatif langsung dari para maestro.

Bagi mereka yang ingin berburu rilisan fisik, instrumen, atau sekadar berbagi cerita, Music Market di Atrium Ciunik menghadirkan ekosistem industri musik yang intim, diisi oleh jenama besar seperti Yamaha, Tiup Tiup Music Store, Tiga Negeri Music House, Brass Jakarta, Ivan Guitar Studio, hingga cenderamata otentik dari Saung Angklung Udjo dan Official Merchandise eksklusif.

Sementara itu, bagi penikmat kasual yang merindukan kebersamaan yang membumi, atmosfer inklusif tersebar di area Live Jazz Corner (Downtown Walk & Atrium Ciunik) secara gratis. Area ini menyajikan panggung student showcase, komunitas lokal, dan jazz jam session yang dimeriahkan oleh Venche Music School, UPI Symphonic Band, Hajarbleh Big Band, Galaxy Big Band, hingga Gang Brass x ICM. Ini adalah bukti nyata komitmen GJF dalam menjaga keberlanjutan ekosistem jazz dari hulu ke hilir.

Menuju Alunan Nada: Aksesibilitas dan Tiket

Untuk menikmati rangkaian Special Show di panggung utama Sawarga Courtyard, penyelenggara menyediakan beberapa opsi tiket yang adaptif bagi kantong para penikmat musik:

  • Festival Pass: Rp250.000

  • Daily Pass: Mulai dari Rp400.000

  • 2 Day Pass: Mulai dari Rp640.000

  • Jazz Front Row (Premium): Mulai dari Rp2.000.000 (untuk pengalaman menonton eksklusif di baris terdepan)

Seluruh tiket dapat diperoleh secara resmi melalui platform Loket.com atau langsung di booth penjualan resmi di The Downtown Walk SUMMABA.

Akses menuju festival pun kini jauh lebih modern dan nyaman. Para pengunjung dari luar kota dapat memanfaatkan efisiensi waktu menggunakan Kereta Cepat Whoosh dengan tujuan Stasiun Tegalluar Summarecon, yang langsung terkoneksi dengan layanan shuttle bus pulang-pergi menuju mal. Bagi pengguna kendaraan pribadi, dibukanya kembali Exit Tol Gedebage KM 149 memberikan jalur langsung yang bebas hambatan menuju jantung festival.

Untuk informasi detail mengenai jadwal tampil dan pembaruan berkala, Anda dapat mengunjungi situs resmi www.summareconmallbandung.com atau menyapa mereka di Instagram @summareconmall.bandung.

Written by: admin

Rate it

Post comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


PIONER RADIO JAZZ #1 DI INDONESIA