Events

Dalam Kabut, Suara Itu Datang: Monita Tahalea dan Nyanyian yang Menyatu dengan BRI Jazz Gunung Series 2 Bromo

today26 Juli 2025 90

Background
share close

Malam mulai turun perlahan di Bromo. Angin menyelusup lembut di antara pohon cemara yang menjulang, dan tanah rumput masih menyimpan sisa embun siang tadi. Di hadapan panggung bambu yang megah namun bersahaja, para penonton duduk berselimut jaket dan selimut tipis, seolah menunggu sesuatu yang bukan sekadar pertunjukan.

Kemudian, suara itu datang. Lembut, penuh ruang, dan seperti berasal dari jarak yang sangat dekat sekaligus sangat jauh. Monita Tahalea melangkah ke panggung dalam balutan merah yang dalam. Tak banyak kata, hanya senyum kecil sebelum lagu pertama mengalun: “Solenna”. Lagu pembuka ini bukan hanya pengantar, melainkan undangan: mari masuk ke dunia yang tenang, personal, dan penuh cahaya hangat.

Menyanyi Seperti Berdoa

Dari lagu ke lagu, Monita tak membawakan konser—ia menciptakan suasana. “Labuan Hati” mengalun seperti ombak yang pelan dan penuh kerinduan. Lalu “Kawan” hadir sebagai pelukan: bagi mereka yang datang bersama sahabat, dan bagi yang diam-diam sedang rindu rumah.

Di panggung terbuka, di bawah langit yang tak sepenuhnya hitam, “Seketika” dan “Perahu” mengapung begitu ringan. Ada kesunyian di antara bait, ruang-ruang kosong yang justru memperdalam arti. Monita tak buru-buru. Ia tahu, jazz bukan tentang kecepatan, melainkan tentang keberanian menunggu nada berikutnya.

Malam terus berjalan. “Angan”, “Matcha With The Sun”, hingga “Mr. Moo” menjadi parade warna suara. Musik tidak terlalu padat, namun justru kuat. Para musisi yang mengiringi tampil presisi namun lentur, menyisakan ruang cukup untuk vokal Monita yang seperti melayang di antara pepohonan.

Bahasa yang Tak Selalu Harus Dimengerti

Saat “Michibata No Hana” dimainkan, tak semua orang paham liriknya. Tapi malam itu, tak ada yang peduli soal arti kata. Nada dan emosi lebih dari cukup untuk menjelaskan. Dalam sunyi Bromo, bahasa adalah perasaan.

Lalu kejutan pun datang. Sri Hanuraga, pianis dengan sentuhan klasik dan bebop yang elegan, naik ke panggung. Bersama Monita, mereka membawakan dua nomor istimewa: “Merona” dan “Kehidupan”. Dua lagu yang menjadi titik terang malam itu. Improvisasi halus dari Aga dan dinamika suara Monita menciptakan dialog tanpa perlu kalimat. Seolah-olah mereka tak bermain, tapi saling mendengarkan.

Menutup dengan Sebuah Doa

Sebelum malam benar-benar tuntas, Monita membawakan “Memulai Kembali”. Lagu ini seperti catatan harian yang jujur—tentang kehilangan, harapan, dan keberanian mengulang langkah. Dan ketika penonton belum rela melepas, satu encore diberikan: “Laila”. Sebuah epilog yang tak dramatis, tapi mengendap pelan di hati.

Tidak ada kembang api. Tidak ada tepuk tangan meriah berlebihan. Hanya tepuk tangan hangat dan senyum diam-diam yang menandai akhir malam.

Di Bromo, suara Monita bukan hanya didengar. Ia dirasakan. Ia menyatu dengan kabut, dengan pohon, dengan bumi, dan dengan siapa pun yang malam itu memilih diam dan mendengarkan. Sebab di festival jazz yang kadang riuh, pertunjukan seperti inilah yang mengingatkan: bahwa kekuatan musik justru lahir dari keheningan yang terjaga.

Written by: admin

Rate it

Post comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


PIONER RADIO JAZZ #1 DI INDONESIA