Listeners:
Top listeners:
play_arrow
KLCBS 100.4 FM 100.4 FM KLCBS Bandung
play_arrow
KLCBS Tropical
play_arrow
KLCBS Standard
play_arrow
KLCBS Jazzical
play_arrow
KLCBS Fusion
play_arrow
KLCBS Fresh
play_arrow
KLCBS World Music
play_arrow
KLCBS Beyond
play_arrow
KLCBS New Age
Di tengah dinginnya suhu yang mencapai 12 derajat di Jiwa Jawa Resort, Bromo, musik jazz bergema bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai sebuah perayaan. Bagi Barry Likumahuwa, jazz adalah medium berekspresi yang paling jujur; sebuah bentuk seni yang terus berevolusi namun esensinya tetap merupakan momen selebrasi bagi pelakunya. Di panggung BRI Jazz Gunung Bromo, kejujuran ini bertemu dengan lanskap alam yang megah, menciptakan ruang unik di mana tradisi nusantara dan inovasi musik modern saling berdialog.
Kejujuran dalam bermusik membutuhkan ekosistem yang mendukung, dan inilah yang menjadi fokus utama dalam program Legato Jazz Camp. Sri Hanuraga menceritakan proses inkubasi intensif yang menyaring 60 peserta menjadi enam orang terpilih untuk digembleng dan diberikan panggung utama. Langkah ini bukan tanpa alasan. Sri Hanuraga menyoroti fenomena “rantai side-man”, di mana banyak talenta hebat di Indonesia hanya berakhir menjadi pemain pendukung musisi besar tanpa pernah mendapat kesempatan menonjolkan karya sendiri. BRI Jazz Gunung Bromo hadir memberikan exposure dan ruang bagi para musisi muda ini untuk memimpin band mereka sendiri, memastikan regenerasi musik jazz di Indonesia tidak pernah terhenti.
Namun, tantangan bagi generasi baru ini bukan hanya soal panggung, melainkan soal identitas. Barry Likumahuwa mengungkapkan kegelisahannya mengenai perbedaan antara “jazz di Indonesia” yang sekadar memainkan standar Barat dengan apik dan “jazz Indonesia” yang berakar pada budaya lokal. Sejalan dengan hal ini, Sri Hanuraga membawa perspektif filsafat “Kosmoteknik”, yang melihat jazz sebagai keberhasilan reinterpretasi budaya seperti bagaimana budak Afrika di Amerika menciptakan musik baru dari akar yang tercerabut. Melalui kriteria kurasi festival yang mewajibkan unsur warisan nusantara, musisi didorong untuk merespons lingkungan lokal mereka dan melahirkan karya yang memiliki identitas spesifik Indonesia.
Tugas mencari warna sendiri menjadi lebih kompleks di era digital. Barry mencatat adanya paradoks informasi: meskipun musisi muda kini mudah belajar lewat YouTube, kemudahan tersebut terkadang membuat mereka kehilangan kedalaman. Banyak musisi muda yang mahir secara teknis namun kehilangan “missing link” berupa pemahaman akar, terutama esensi swing feel, blue tonality, dan sinkopasi. Barry menekankan bahwa mempelajari sejarah dan pola pikir para maestro bukan untuk meniru mentah-mentah, melainkan untuk menguasai “language” atau bahasa musik tersebut agar mereka bisa merangkai “kata-kata” mereka sendiri secara autentik di masa depan.
Lebih dari sekadar teknik, menjadi musisi jazz menuntut kematangan karakter. Sri Hanuraga menegaskan bahwa sikap (attitude) seringkali lebih krusial daripada bakat mentah; musisi harus terbuka pada kritik, mampu bersosialisasi, dan berani keluar dari zona nyaman. Barry menambahkan filosofi “banyak topi”, di mana seorang musisi harus tahu kapan ia harus menonjol dan kapan ia harus melayani kebutuhan musiknya tanpa harus mendominasi. Pada akhirnya, jazz adalah sebuah percakapan sosial yang memerlukan kemampuan untuk mendengar dan merespons rekan sepanggung dengan kerendahan hati.
Kematangan ekosistem BRI Jazz Gunung Bromo juga terlihat dari evolusi teknisnya. Barry memberikan testimoni bahwa dari sisi fasilitas dan kualitas suara, festival ini telah mencapai standar internasional yang membanggakan musisi. Sri Hanuraga melihat kurasi yang beragam sebagai bentuk “education of the sensibilities”, yang memperluas cakrawala estetika pendengar dan pelaku musik.
Sebagai penutup, harapan besar digantungkan pada pundak generasi muda. Pesan dari Barry dan Hanuraga senada: teruslah mencari warna sendiri, jangan pernah meremehkan pentingnya mempelajari akar musik, dan jangan takut untuk terus bereksplorasi. BRI Jazz Gunung Bromo bukan sekadar perhelatan tahunan, melainkan simbol kematangan musik Indonesia yang menghargai sejarah sambil terus melangkah menuju masa depan.
Sahabat KLCBS dapat menyaksikan kepiawaian Sri Hanuraga dalam dua penampilan berbeda di BRI Jazz Gunung Bromo 2026. Pada hari pertama, Sri Hanuraga akan tampil bersama Ring of Fire Project dan Simone Prattico, sementara di hari kedua ia berkolaborasi dalam Simone Prattico Java Collective bersama Kevin Josua. Tak hanya itu, panggung BRI Jazz Gunung Bromo 2026 juga akan menghadirkan penampilan Barry Likumahuwa bersama Indra Lesmana LLW, Eva Celia, dan Teza Sumendra, melengkapi pengalaman musik yang tak boleh dilewatkan.
Written by: admin
today29 Juni 2026 34 164
With Ronny Hengst
8:00 pm - 9:00 pm
Mon-Fri at 7AM
7:00 am - 9:00 am
Host by Yanti Rangkuti
9:00 am - 11:00 am
Tuesday and Friday at 20:00
8:00 pm - 9:00 pm
Presented by Satrio Wibowo
10:00 pm - 11:00 pm
© 2026 KLCBS OFFICIAL | ALL RIGHTS RESERVED
Post comments (0)